Ragamnuansa.com, Garut — Sebuah rekaman CCTV mengguncang jagat media sosial sejak Senin malam, 14 April 2025.
Video tersebut memperlihatkan tindakan tak senonoh yang diduga dilakukan oleh seorang dokter kandungan saat menangani pasien perempuan dalam sesi pemeriksaan USG.
Dalam video yang viral itu, terlihat tangan kiri sang dokter meraba area sensitif pasien, memicu gelombang kemarahan dan keresahan publik.
Oknum dokter berinisial MSF atau I kini telah diamankan oleh pihak kepolisian. Gerak cepat dilakukan jajaran Polres Garut menyusul kecaman luas dan tekanan publik.
Baca Juga: Kasus Dokter Kandungan di Garut Kian Menggemparkan, Makin Terungkap Kini Korban Bertambah
Kurang dari 24 jam sejak video itu mencuat, kami berhasil mengamankan terduga pelaku. Saat ini sedang kami lakukan penyelidikan intensif, ujar AKP Joko Prihatin, Kasat Reskrim Polres Garut, pada Selasa, (15/4/2025).
Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat, Kombes Surawan, mengonfirmasi bahwa jumlah korban kini telah bertambah menjadi dua orang.
Tak menutup kemungkinan korban lainnya akan bermunculan, menyusul dibukanya posko pengaduan khusus oleh kepolisian.
Ketika Relasi Kuasa Tak Dilindungi Etika
Ruang medis seharusnya menjadi tempat paling aman, tempat di mana tubuh manusia dilihat secara profesional, bukan objek hasrat.
Baca Juga: Tiba di Tanah Air, Prabowo Langsung Ngantor dan Terima Kunjungan Wakil PM Rusia
Namun kasus ini kembali menampar kesadaran kolektif kita tentang betapa mudahnya ruang aman berubah menjadi ruang ancaman ketika etika dikalahkan oleh nafsu, dan kuasa profesional digunakan secara menyimpang.
Bagi institusi medis, asosiasi profesi dan lembaga pengawas untuk tidak hanya berhenti pada tindakan hukum.
Artikel Terkait
Update Kasus Pelecehan Seksual Oleh Oknum Dokter Kandungan Dalam Tahap Penyelidikan, Kapolres Garut Sebut Bentuk Tim Khusus
Kasus Dokter Kandungan di Garut Kian Menggemparkan, Makin Terungkap Kini Korban Bertambah
Klinik Buka Suara Terkait Kasus Dokter Kandungan Lakukan Pelecehan Seksual : Sempat ada Keluhan, Dokter Sudah Tidak Praktik Lagi