Ragamnuansa.com - Ketegangan di perbatasan Myanmar–Thailand meningkat tajam setelah koalisi kelompok pemberontak berhasil merebut Kota Mawtaung, wilayah strategis yang selama lebih dari 35 tahun berada di bawah kendali militer Myanmar.
Kota yang terletak di Distrik Myeik–Dawei, Region Tanintharyi itu jatuh pada 14 November setelah pertempuran intens sejak awal November. Wilayah tersebut sebelumnya dikepung sejak 11 November dan menjadi sasaran operasi besar-besaran dari berbagai kelompok perlawanan.
Koalisi Bersenjata Rebut Mawtaung Setelah Pertempuran Empat Hari
Serangan terhadap basis pertahanan terakhir junta di Mawtaung dimulai pada 10 November.
Gabungan pasukan dari:
- KNLA (Karen National Liberation Army)
- KNU/KNDO (Karen National Defense Organization)
- PDF Mandalay (People’s Defense Force)
- BPLA (Bamar People’s Liberation Army)
- FFD Drone Force
dan beberapa unit perlawanan lokal lainnya melakukan ofensif serentak, meski mendapat gempuran udara berat dari militer Myanmar.
Baca Juga: KPK Tahan Dua Pejabat PT PP atas Dugaan Korupsi Rp46,8 Miliar dengan Modus Vendor Fiktif
Pada 14 November, markas strategis Mawtaung berhasil direbut sepenuhnya, menandai titik balik operasi terbesar kelompok perlawanan di wilayah selatan Myanmar sepanjang 2024–2025.
43 Prajurit Junta Ditangkap, Puluhan Lain Lari ke Thailand
Setidaknya 43 anggota militer junta ditangkap sebagai prisoners of war (POW).
KNU melaporkan bahwa para tawanan diperlakukan sesuai aturan KNLA terkait manajemen tahanan perang. Sumber perbatasan juga menyebut lebih dari 50 tentara Myanmar melarikan diri ke Thailand, sebagian di antaranya menyerahkan senjata ketika memasuki wilayah Thailand dan kini berada dalam penanganan aparat setempat.
Angka ini berbeda dengan laporan sebelumnya yang menyebut puluhan prajurit tertangkap dan 19 lainnya menyeberang ke Thailand, namun kedua sumber sama-sama menunjukkan bahwa kekalahan militer junta di wilayah itu sangat signifikan.
Warga Sipil Melarikan Diri
Warga sipil dari Mawtaung dan desa-desa sekitarnya dilaporkan menyelamatkan diri menuju wilayah Thailand akibat pertempuran yang berlangsung sporadis dan pemboman udara sejak awal November. Banyak dari mereka melintas melalui jalur hutan dan pos-pos informal demi menghindari titik konflik.
Artikel Terkait
Selebgram AP Dapat Amnesti di Myanmar, Akhirnya Dipulangkan ke Indonesia: Ini Sosok Selebgram Yang Jadi Dugaan Publik